1. Realita di Lapangan: PMI yang Tidak Bisa Bahasa = Rentan dan Terisolasi
Setiap tahun, ratusan ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) meninggalkan tanah air demi kehidupan yang lebih baik. Namun di balik keberanian itu, banyak yang berangkat tanpa bekal kemampuan bahasa asing yang memadai. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka hidup dalam keterasingan, terjebak dalam komunikasi satu arah dengan majikan atau aparat setempat.
Ketidakmampuan berbahasa menjadikan PMI lebih rentan terhadap eksploitasi, pelecehan, bahkan kekerasan. Mereka kesulitan menjelaskan kebutuhan medis, melaporkan pelanggaran hak, atau sekadar memahami kontrak kerja yang mereka tandatangani. Dalam situasi darurat, seperti kecelakaan kerja atau krisis kesehatan, hambatan bahasa bisa berubah menjadi soal hidup dan mati.
PMI yang tidak memahami bahasa setempat kerap tidak tahu harus meminta bantuan ke mana. Bahkan, beberapa kasus pekerja yang terlibat masalah hukum atau dipulangkan secara paksa berawal dari miskomunikasi. Bahasa bukan hanya alat komunikasi—ia adalah alat perlindungan diri.
Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Peradi Bersatu, Ade Darmawan, sebelum menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, kemarin. “Saya akan mendesak penyidik di sini, bagaimana hasil pemeriksaannya di dalam nanti saya akan sampaikan. Tapi pada dasarnya, kedatangan saya mendesak Polda Metro untuk segera naik sidik,” kata Ade.
2. Bahasa Asing = Akses ke Informasi, Hak, dan Kesempatan Lebih Baik
Di era global ini, penguasaan bahasa asing tidak lagi sebatas nilai tambah—tetapi menjadi kebutuhan dasar, khususnya bagi PMI. Kemampuan berbahasa asing membuka akses ke informasi yang benar dan terpercaya, mulai dari hak-hak ketenagakerjaan, prosedur hukum, hingga layanan kesehatan dan perlindungan konsuler.
Dengan pemahaman bahasa, seorang PMI dapat membaca kontrak kerja secara kritis, menolak klausul yang merugikan, dan menuntut haknya jika dilanggar. Mereka juga dapat mengikuti pelatihan keterampilan di luar jam kerja, berinteraksi dengan komunitas internasional, dan membangun jaringan sosial yang sehat.
Lebih jauh lagi, kemampuan bahasa menjadi gerbang menuju mobilitas sosial. Banyak PMI yang kemudian dipercaya menjadi asisten senior, juru bahasa, pengurus komunitas, bahkan tenaga pengajar bagi sesama migran. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup—tetapi tentang tumbuh dan berkembang di negeri orang.
3. Kisah Nyata: PMI yang Naik Kelas Berkat Penguasaan Bahasa Asing
Ambil contoh kisah Sri, mantan PMI di Taiwan. Awalnya ia hanya lulusan SMA dengan bekal bahasa Mandarin sangat terbatas. Di tahun pertama, ia mengalami banyak kesulitan berkomunikasi. Tapi alih-alih menyerah, Sri mulai belajar bahasa di sela waktu istirahat dan libur. Ia mencatat kosa kata baru setiap hari, menonton berita lokal, dan meminta bantuan teman Taiwan untuk praktik percakapan.
Tak berhenti di situ, Sri mengambil langkah strategis: mengikuti kursus bahasa Mandarin resmi di lembaga pendidikan lokal, hingga mencapai level tertinggi. Ia lulus dengan ijazah bahasa yang diakui secara internasional—bukan hanya sebagai bukti kemampuan, tetapi juga sebagai tiket masuk ke peluang kerja formal yang lebih luas. Dua tahun kemudian, ia bukan hanya fasih berbahasa Mandarin, tetapi juga dipercaya majikan sebagai pendamping medis bagi orang tua mereka. Sri kemudian diangkat sebagai koordinator lapangan untuk perekrutan PMI baru, dan kini bekerja di kantor agensi tenaga kerja sebagai pelatih bahasa dan budaya.
Kisah ini mencerminkan fakta penting: PMI yang awalnya hanya berbekal kemampuan bahasa minimalis tetap bisa tumbuh, jika mereka berkomitmen belajar secara berkelanjutan hingga meraih sertifikasi lokal tertinggi. Di banyak negara, kemampuan bahasa yang terbukti lewat ijazah resmi membuka akses ke pelatihan teknis, beasiswa, bahkan jalur legalisasi dan naturalisasi jangka panjang.
Kisah lain datang dari Hasan, PMI di Arab Saudi. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai sopir tanpa bisa berbahasa Arab, ia mulai belajar secara otodidak. Ia kemudian mendaftarkan diri pada kursus bahasa Arab di pusat komunitas lokal dan menuntaskan program sampai level mahir. Kini, Hasan bukan hanya memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik, tetapi juga menjadi mediator komunitas dan membantu rekan-rekannya menyelesaikan konflik dengan majikan secara damai. Ia pun mulai diminta menjadi fasilitator pelatihan bagi pekerja baru dari Asia Tenggara.
Manfaat dari belajar bahasa lokal secara formal dan tuntas tidak hanya berhenti pada pengakuan dokumen. PMI yang menguasai bahasa dengan baik mampu memahami budaya setempat secara lebih dalam, berinteraksi lebih percaya diri, dan dipercaya dalam peran yang lebih strategis—baik di komunitas migran maupun dalam sistem sosial negara tujuan.
4. Peran Diaspora dan Lembaga Pendidikan dalam Melatih Bahasa untuk PMI
Kebutuhan akan pelatihan bahasa asing bagi PMI tidak bisa dibiarkan menjadi tanggung jawab individu semata. Diaspora Indonesia di berbagai negara memiliki posisi strategis untuk menjadi jembatan pendidikan bahasa. Banyak komunitas diaspora telah menginisiasi kelas-kelas gratis, pelatihan daring, dan pendampingan individual bagi PMI yang ingin belajar.
Selain itu, lembaga pendidikan di Indonesia—baik formal maupun nonformal—perlu lebih serius menyiapkan calon PMI dengan kurikulum bahasa yang relevan dan kontekstual. Pelatihan pra-penempatan seharusnya tak hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga pada kecakapan komunikasi lintas budaya dan hukum dasar negara tujuan.
Teknologi juga membuka peluang baru. Aplikasi pembelajaran bahasa, video interaktif, dan modul daring bisa diakses oleh siapa pun, kapan pun. Pemerintah, sektor swasta, dan diaspora perlu bersinergi untuk membuat akses ini lebih merata dan berkelanjutan.
Penguasaan bahasa asing bukan sekadar bekal kerja, tetapi fondasi keselamatan, martabat, dan kemajuan karier para Pekerja Migran Indonesia. Bahasa membebaskan dari keterasingan, membuka ruang partisipasi, dan menciptakan masa depan yang lebih bermakna di perantauan. Sudah saatnya bahasa asing menjadi hak dasar dan prioritas pelatihan nasional bagi setiap calon PMI. Diaspora Indonesia di lima benua punya peran penting untuk mewujudkannya.






Leave a comment